[LBM TECH] LBM dan Lembaga Pengelolaan Dana Investasi Nasional Mengadakan Acara Penandatanganan Surat Minat Investasi (LOI) senilai $200 juta
Waktu rilis:
2024-10-08
Pada 8 Oktober, pagi hari di pabrik Lithium Iron Phosphate (LFP) pertama yang dibangun di luar negeri, LBM Indonesia mengadakan Acara penandatanganan investasi di Kawasan Industri Kendal (KIK), Kota Semarang, Indonesia. Lembaga Pengelolaan Dana Investasi Nasional - Indonesia Investment Authority (INA) dan para investor lainnya yang ikut bergabung menandatangani Surat Minat Investasi (Letter of Intent/LOI) senilai dua ratus juta dollar dengan LBM di lokasi. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia, Bapak Luhut Binsar Pandjaitan, CEO Indonesia Investment Authority (INA), dan Pimpinan Tertinggi Board of Director dari LOPAL TECH, Tuan Shi Junfeng menghadiri acara penandatanganan. Pada rencana investasi ini akan memperluas kapasitas produksi pabrik LBM Indonesia dari hasil produksi awal 30.000 ton/tahun menjadi 120.000 ton/tahun mulai tahun 2025, menjadikan LBM Indonesia sebagai "Pabrik Bahan Katoda Baterai LFP Terbesar di Dunia setelah China”.
Indonesia Investment Authority (INA) adalah lembaga pengelola dana investasi nasional yang didirikan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 2021. Misi Indonesia Investment Authority (INA) adalah untuk meningkatkan investasi, mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia, dan berkolaborasi dengan lembaga investasi internasional dan nasional terkemuka dalam memperkuat keunggulan Indonesia dan memberikan hasil investasi dengan tingkat pengembalian yang disesuaikan dengan risiko; Menurut laporan, Indonesia Investment Authority (INA) pada tahun ini berencana untuk melakukan investasi dengan total satu miliar dolar di berbagai bidang seperti ekosistem kendaraan listrik dan energi geotermal.
LBM saat ini merupakan salah satu produsen bahan katoda Lithium Iron Phosphate (LFP) terbaik di pasar internasional. Perusahaan ini telah menjalin hubungan kerja sama jangka panjang dengan banyak perusahaan terkemuka di bidang baterai energi baru dan otomotif seperti CATL dan LG New Energy. Saat ini, LBM Changzhou memiliki lima cabang perusahaan manufaktur utama di China, termasuk LBM Changzhou di Provinsi Jiangsu, LBM Tianjin, LBM Shangdong di kota Heze, LBM Hubei di kota Xiangyang, dan LBM Sichuan di kota Suining; Pada bulan November 2021, LBM Changzhou menyatakan pendirian cabang pabrik manufaktur LFP di Indonesia, dengan rencana kapasitas produksi total sebesar 120.000 ton Lithium Iron Phosphate (LFP), dan menjadi perusahaan manufaktur Lithium Iron Phosphate (LFP) pertama di dunia yang beroperasi di luar negeri. Pada bulan Februari tahun ini, LBM Changzhou menandatangani kontrak pasokan jangka panjang untuk bahan katoda Lithium Iron Phosphate (LFP) dengan LG New Energy dari Korea Selatan. Kedua belah pihak sepakat bahwa mulai tahun ini hingga 2028, LBM Changzhou akan menjual total 160.000 ton bahan katoda LFP kepada LG New Energy. Hal ini juga menjadikan LBM Changzhou sebagai perusahaan bahan Lithium Iron Phosphate (LFP) pertama di China yang berhasil menerima pesanan dalam jumlah besar dari produsen baterai terkenal di luar negeri.
Pimpinan Tertinggi Board of Director dari LOPAL TECH, Shi Junfeng dalam sambutannya pada acara tersebut menyampaikan bahwa pabrik LBM Indonesia akan menjadi perusahaan bahan katoda Lithium Iron Phosphate (LFP) pertama di dunia yang akan beroperasi di luar China, yang merupakan faktor yang sangat penting dalam meningkatkan jaminan supply chain industri kendaraan energi baru (NEV) di seluruh dunia; Pada saat yang sama, penandatanganan Surat Minat Investasi (Letter of Intent/LOI) antara LBM dan Lembaga Pengelolaan Dana Investasi Nasional Republik Indonesia, Indonesia Investment Authority (INA), merupakan salah satu pencapaian penting dalam kerja sama strategis komprehensif antara China dan Indonesia, yang mencerminkan visi ke depan dan rencana jangka panjang Indonesia Investment Authority (INA) dalam peta investasi industri kendaraan energi baru (NEV) di dunia, sebagai Lembaga Pengelolaan Dana Investasi Nasional Indonesia.
Menurut lembaga resmi SPIR, permintaan pasar untuk baterai lithium dunia akan melebihi 5.100GWh pada tahun 2030, dengan permintaan untuk baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) yang memimpin di depan, diperkirakan akan mencapai 3.000GWh, dengan kontribusi lebih dari 60%. Dengan popularitas kendaraan listrik secara global yang terus meningkat, perluasan proyek tahap kedua pabrik LBM Indonesia akan memainkan peran penting dalam memenuhi permintaan bahan katoda Lithium Iron Phosphate (LFP) di pasar internasional.
Sebagai produsen nikel terbesar di dunia dan produsen kobalt terbesar kedua di dunia, Indonesia memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pasar kendaraan listrik (EV) global. Pemerintah Indonesia telah menempatkan industri kendaraan listrik (NEV) sebagai salah satu dari 18 industri prioritas. Berdasarkan pada rencana pemerintah, pada tahun 2030, Indonesia akan memiliki kapasitas produksi tahunan sebesar 500.000 kendaraan listrik, dan setidaknya akan ada 2,2 juta kendaraan listrik di dalam negeri. Saat ini, produsen kendaraan seperti Wuling Automobile, Seres Automobile, Chery Automobile, FAW Automobile, BYD Automobile, NETA Automobile, Great Wall Automobile, dan GAC Aion Automobile dari China, produsen baterai listrik seperti CATL, EVE Energy, dan GOTION High Tech, serta produsen bahan baterai seperti Qingshan Holdings, CNGR Group, dan BTR, semuanya telah memasuki pasar kendaraan energi baru di Indonesia. Proyek LBM Indonesia mengisi kekosongan di bidang bahan katoda Lithium Iron Phosphate di industri kendaraan energi baru (NEV) Indonesia, dan menambah mata rantai penting untuk peningkatan rantai industri kendaraan energi baru (NEV) Indonesia.
Berita Terbaru

Ada yang bisa kami bantu?
Terhubung dengan kami!
Tautan Terkait: